PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Bagi
kita yang aktif daam dunia pendidikan ataupun memilik high responbility tinggi terhadap dunia pendidikan pasti akan
selalu mempertanyakan beberapa hal yang terkait langsung dengan dunia
pendidikan, yaitu apa itu belajar, mengajar, dan pembelajaran? Apa sebenarnya
pembelajan itu? Secara sederhana Anthony Robbins, mendefinisikan belajar
sebagai proses menciptakan hubungan antara sesuatu (pengetahuan) yang sudah
dipahami dan sesuatu (pengetahuan) yang baru. Dari dimensi belajar memuat
beberapa unsure, yaitu: (1) penciptaan hubungan, (2) sesuatu hal (pengetahuan)
yang sudah dipahami, dan (3) sesuatu (pengetahuan) yang baru.
Apa
hakikat mengajar? Mengajare pada hakikatnya tidak lebih dari sekadar menolong
siswa untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap, serta ide dan
apresiasi yang menjurus kepada perubahan tingkah laku dan pertumbuhan siswa
(Subiyanto, 1988: 30)
Apa pula
yang dimaksud pembelajaran? Pembelajaran merupakan aspek kegiatan manusia yang
kompleks, yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan. Pembelajaran secara simple
dapat diartikan sebagai produk interaksi berkelanjutan antara pengembangan dan
pengalaman hidup.
Pembelajaran
kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa
bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama (Eggen and kauchak,
1996: 279).
Macam-Macam Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
1.
Student Teams Achievement –
Divisions (STAD)
STAD
merupakan salah satu tipr dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan
kelompok – kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4 – 5 orang yang
merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku (Slavin,
2000: 26). STAD diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian
materi, kegiatan kelompok, kuis, dan penghargaan kelompok.
Seperti
halnya pemebelajaran lainnya. Pemebelajaran kooperatif tipe STAD ini juga
membutuhkan persiapan yang matang sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan.
Persiapan - persiapan tersebut antara lain:
a.
Perangkat
pembelajaran (RPP, Buku siswa, LKS, dll)
b.
Membentuk
kelompok kooperatif
c.
Menentukan
skor awal
d.
Pengaturan
tempat duduk
e.
Kerja
kelompok
Fase – fase pemeblajaran kooperatif
tipe STAD:
a. Fase 1 : Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
b. Fase 2 : Menyajikan/ memyampaikan informasi
c. Fase 3 : Mengorganisasikan siswa dalam kelompok – kelompok belajar
d. Fase 4 : Membimbing kelompok bekerja dan belajar
e. Fase 5 : Evaluasi
f. Fase 6 : Member penghargaan
2.
Tipe Ahli (Jigsaw)
Jigsaw telah dikembangkan dan diuji coba oleh Elliot Aroson
dan teman – temannya dari Universitas Texas, dan diadopsi oleh Slavin dan teman
– temannya di Universitas John Hopkins.
Persyaratan yang perlu disiapkan guru, antara lain: (1)
Bahan Kuis; (2) Lembar Kerja Siswa (LKS); dan (3) Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran. System evaluasi pada jigsaw sama dengan system evaluasi pada tipe
STAD, yaitu pemberian skor nilai baik secara individual maupun kelompok.
Langkah-langkah:
a.
Siswa dibagi atas beberapa kelompok
(tiap kelompok anggotanya 5 – 6 orang)
b.
Materi pelajaran diberikan kepada
siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi menjadi beberap sub bab
c.
Setiap anggota kelompok membaca sub
bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya.
d.
Anggota dari kelompok lain yang
telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok – kelompok ahli
untuk mendiskusikannya.
e.
Setiap anggota kelompok ahli
setelah kembali ke kelompoknya bertugas mengajar teman-temannya.
f.
Pada pertemuan dan diskusi kelompok
asal, siswa – siswa dikenai tagihan berupa kuis individu.
3.
Investigasi Kelompok (Group
Investigation)
Investigasi kelompok merupakan model pembelajaran kooperatif
yang paling kompleks dan paling sulit untuk diterapkan. Model ini dikembangkan
pertama kali oleh Thelan. Dalam perkembangannya model ini diperluas dan
dpertajam oleh Sharan dari Universitas Tel aviv. Berbeda dengan STAD dan
Jigsaw, siswa terlibat dalam perencanaan baik topik yang dipelajari dan
bagaimana jalannya penyelidikkan mereka.
Dalam implementasi tipe ini, guru membagi kelas menjadi
kelompok – kelompok dengan anggota 5 – 6 siswa yang heterogen, dapat dibentuk
dengan mempertimbangkan keakraban persahabatan atau minat yang sama dalam topik
tertentu.
Sharan, dkk. (1984) membagi langkah – langkah pelaksanaan
investigasi kelom[ok meliputi 6 fase:
a.
Memilih
topik
b.
Perencanaan
kooperatif
c.
Implementasi
d.
Analisis
dan sintesis
e.
Presentasi
hasil final
4.
Think Pair and Share (TPS)
Pertama kali dikembangkan oleh Frang
Lyman dan koleganya di Universitas Maryland sesuai diutip Arends (1997),
menyatakan bahwa think-pais-share
merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi
kelas. Strategi think-pair-share
(berpikir brepasangan) merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang
untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.
Langkah-langkah:
a.
Bepikir (Thinking)
Guru
mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikatkan dengan pelajaran, dan
meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berpikir sendiri jawaban
atau masalah. Siswa membutuhkan penjelasan bahwa berbicara atau mengerjakan
bukan bagian berpikir.
b.
Berpasangan (Pairing)
Guru
meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka
peroleh.
c.
Berbagi (Share)
Guru meminta pasangan-pasangan
untuk berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah mereka bicarakan.
5.
Numbered Heads Together
Numbered Head Together (NHT) atau
penomoran berpikir bersama adalah jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang
untuk memengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternative terhadap
struktur kelas tradisional. Tipe ini pertama kali dikembangkan oleh Spenser Kgen
(1993) untuk lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu
pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
Dalam mengajukan pertanyaan kepada
seluruh kelas, guru menggunakan struktur wmpat fae sintaks NHT:
a.
Fase
1 : Penomoran
Dalam fase ini, guru membagi siswa
ke dalam kelompok 3-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor
antara 1-5.
b.
Fase
2 : Mengajukan pertanyaan
Guru mengajukan sebuah pertanyaan
kepada siswa.
c.
Fase
3 : Berpikir bersama
Siswa menyatukan pendapatnya
terhadap jawaban pertanyaan itu dan menyakinkan tiap anggota dalam timnya
mengetahui jawaban tim.
d.
Fase
4 : Menjawab
Guru memanggil suatu nomor tertentu,
kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk
menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.
6.
Team
Games Tournament (TGT)
Model pembelajara TGT atau Perbandingan Permainan Tim
dikembangkan secara asli oleh David De Vries dan Keath Edward (1995). Pada
model ini siswa memainkan permainan dengan anggota–anggota tim lain untuk
memperoleh tambahan poin untuk skor tim mereka.
TGT dapat digunakan dalam berbagai macam mata pelajaran,
dari ilmu–ilmu eksak, ilmu–ilmu social maupun bahasa dari jenjang pendidikan
dasar (SDm SMP) hingga perguruan tinggi. TGT sangat cocock untuk mengajar tujua
pembelajran yang dirumuskan dengan tajam dengan suatu jawaban benar. Meski
demikian, TGT juga dapat diadaptasi untuk digunakan dengan tujuan yang
dirumuskan dengan kurang tajam dengan menggunakan penilaian yang bersifat
terbuka, misalnya essai atau kinerja (Nur & Wikandari, 2000: 27)
Ada 5 komponen utama dalam komponen utama dalam TGT yaitu:
a.
Penyajian
kelas
Pada awal pembelajaran guru
menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran
langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru. Pada saat penyajian
kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang
disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja
kelompok dan pada saat game karena skor game akan menentukan skor kelompok.
b.
Kelompok
(team)
Kelompok biasanya terdiri dari 4
sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik,
jenis kelamin dan ras atau etnik. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami
materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota
kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game.
c.
Game
Game terdiri dari
pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat
siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game terdiri dari
pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan
mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab
benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya dikumpulkan siswa
untuk turnamen mingguan.
d.
Turnamen
Biasanya turnamen dilakukan pada
akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan
kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Turnamen pertama guru membagi siswa ke
dalam beberapa meja turnamen. Tiga siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan
pada meja I, tiga siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya.
e.
Team
recognize (penghargaan kelompok)
Guru kemudian mengumumkan kelompok
yang menang, masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila
rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Team mendapat julukan “Super
Team” jika rata-rata skor 45 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata
mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40
DAFTAR PUSTAKA
Luqman
Nadhirin, Arif. 2008. Metode Pembelajaran Efektif. http://nadhirin.blogspot.co.id/2008/08/metode-pembelajaran-efektif.html.
Diakses tanggal 24 Desember 2015. Jam 10.02 WIB.
Trianto. 2012. Mendesain
Model Pembelajaran Inovatif-Progresif.
Jakarta: Kencana.
Zahidi, Sukron. 2014. Macam – Macam Model
Pembelajaran. http://izzaucon.blogspot.co.id/2014/06/macam-macam-model-pembelajaran.html. Diakses
tanggal 24 Desember 2015. Jam 10.01 WIB.