Minggu, 27 Desember 2015




PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Bagi kita yang aktif daam dunia pendidikan ataupun memilik high responbility tinggi terhadap dunia pendidikan pasti akan selalu mempertanyakan beberapa hal yang terkait langsung dengan dunia pendidikan, yaitu apa itu belajar, mengajar, dan pembelajaran? Apa sebenarnya pembelajan itu? Secara sederhana Anthony Robbins, mendefinisikan belajar sebagai proses menciptakan hubungan antara sesuatu (pengetahuan) yang sudah dipahami dan sesuatu (pengetahuan) yang baru. Dari dimensi belajar memuat beberapa unsure, yaitu: (1) penciptaan hubungan, (2) sesuatu hal (pengetahuan) yang sudah dipahami, dan (3) sesuatu (pengetahuan) yang baru.
Apa hakikat mengajar? Mengajare pada hakikatnya tidak lebih dari sekadar menolong siswa untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap, serta ide dan apresiasi yang menjurus kepada perubahan tingkah laku dan pertumbuhan siswa (Subiyanto, 1988: 30)
Apa pula yang dimaksud pembelajaran? Pembelajaran merupakan aspek kegiatan manusia yang kompleks, yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan. Pembelajaran secara simple dapat diartikan sebagai produk interaksi berkelanjutan antara pengembangan dan pengalaman hidup.
Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama (Eggen and kauchak, 1996: 279).


Macam-Macam Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
1.        Student Teams Achievement – Divisions (STAD)
STAD merupakan salah satu tipr dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok – kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4 – 5 orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku (Slavin, 2000: 26). STAD diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis, dan penghargaan kelompok.
Seperti halnya pemebelajaran lainnya. Pemebelajaran kooperatif tipe STAD ini juga membutuhkan persiapan yang matang sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Persiapan - persiapan tersebut antara lain:
a.         Perangkat pembelajaran (RPP, Buku siswa, LKS, dll)
b.         Membentuk kelompok kooperatif
c.         Menentukan skor awal
d.        Pengaturan tempat duduk
e.         Kerja kelompok
Fase – fase pemeblajaran kooperatif tipe STAD:
a.       Fase 1 : Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
b.      Fase 2 : Menyajikan/ memyampaikan informasi
c.       Fase 3 : Mengorganisasikan siswa dalam kelompok – kelompok belajar
d.      Fase 4 : Membimbing kelompok bekerja dan belajar
e.       Fase 5 : Evaluasi
f.       Fase 6 : Member penghargaan

2.        Tipe Ahli (Jigsaw)
Jigsaw telah dikembangkan dan diuji coba oleh Elliot Aroson dan teman – temannya dari Universitas Texas, dan diadopsi oleh Slavin dan teman – temannya di Universitas John Hopkins.
Persyaratan yang perlu disiapkan guru, antara lain: (1) Bahan Kuis; (2) Lembar Kerja Siswa (LKS); dan (3) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. System evaluasi pada jigsaw sama dengan system evaluasi pada tipe STAD, yaitu pemberian skor nilai baik secara individual maupun kelompok.
Langkah-langkah:
a.      Siswa dibagi atas beberapa kelompok (tiap kelompok anggotanya 5 – 6 orang)
b.      Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi menjadi beberap sub bab
c.       Setiap anggota kelompok membaca sub bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya.
d.      Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok – kelompok ahli untuk mendiskusikannya.
e.       Setiap anggota kelompok ahli setelah kembali ke kelompoknya bertugas mengajar teman-temannya.
f.        Pada pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa – siswa dikenai tagihan berupa kuis individu.

3.        Investigasi Kelompok (Group Investigation)
Investigasi kelompok merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks dan paling sulit untuk diterapkan. Model ini dikembangkan pertama kali oleh Thelan. Dalam perkembangannya model ini diperluas dan dpertajam oleh Sharan dari Universitas Tel aviv. Berbeda dengan STAD dan Jigsaw, siswa terlibat dalam perencanaan baik topik yang dipelajari dan bagaimana jalannya penyelidikkan mereka.
Dalam implementasi tipe ini, guru membagi kelas menjadi kelompok – kelompok dengan anggota 5 – 6 siswa yang heterogen, dapat dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban persahabatan atau minat yang sama dalam topik tertentu.
Sharan, dkk. (1984) membagi langkah – langkah pelaksanaan investigasi kelom[ok meliputi 6 fase:
a.       Memilih topik
b.      Perencanaan kooperatif
c.       Implementasi
d.      Analisis dan sintesis
e.       Presentasi hasil final

4.        Think Pair and Share (TPS)
Pertama kali dikembangkan oleh Frang Lyman dan koleganya di Universitas Maryland sesuai diutip Arends (1997), menyatakan bahwa think-pais-share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Strategi think-pair-share (berpikir brepasangan) merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.
Langkah-langkah:
a.         Bepikir (Thinking)
Guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikatkan dengan pelajaran, dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berpikir sendiri jawaban atau masalah. Siswa membutuhkan penjelasan bahwa berbicara atau mengerjakan bukan bagian berpikir.


b.         Berpasangan (Pairing)
Guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh.
c.         Berbagi (Share)
Guru meminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah mereka bicarakan.

5.        Numbered Heads Together
Numbered Head Together (NHT) atau penomoran berpikir bersama adalah jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternative terhadap struktur kelas tradisional. Tipe ini pertama kali dikembangkan oleh Spenser Kgen (1993) untuk lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
Dalam mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, guru menggunakan struktur wmpat fae sintaks NHT:
a.       Fase 1  : Penomoran
Dalam fase ini, guru membagi siswa ke dalam kelompok 3-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1-5.
b.      Fase 2  : Mengajukan pertanyaan
Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa.
c.       Fase 3  : Berpikir bersama
Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan menyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban tim.
d.      Fase 4  : Menjawab
Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.

6.        Team Games Tournament (TGT)
Model pembelajara TGT atau Perbandingan Permainan Tim dikembangkan secara asli oleh David De Vries dan Keath Edward (1995). Pada model ini siswa memainkan permainan dengan anggota–anggota tim lain untuk memperoleh tambahan poin untuk skor tim mereka.
TGT dapat digunakan dalam berbagai macam mata pelajaran, dari ilmu–ilmu eksak, ilmu–ilmu social maupun bahasa dari jenjang pendidikan dasar (SDm SMP) hingga perguruan tinggi. TGT sangat cocock untuk mengajar tujua pembelajran yang dirumuskan dengan tajam dengan suatu jawaban benar. Meski demikian, TGT juga dapat diadaptasi untuk digunakan dengan tujuan yang dirumuskan dengan kurang tajam dengan menggunakan penilaian yang bersifat terbuka, misalnya essai atau kinerja (Nur & Wikandari, 2000: 27)
Ada 5 komponen utama dalam komponen utama dalam TGT yaitu:
a.         Penyajian kelas
Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor game akan menentukan skor kelompok.

b.         Kelompok (team)
Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik, jenis kelamin dan ras atau etnik. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game.
c.         Game
Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya dikumpulkan siswa untuk turnamen mingguan.
d.        Turnamen
Biasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Turnamen pertama guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Tiga siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I, tiga siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya.


e.         Team recognize (penghargaan kelompok)
Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Team mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 45 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40
DAFTAR PUSTAKA
Luqman Nadhirin, Arif. 2008. Metode Pembelajaran Efektif. http://nadhirin.blogspot.co.id/2008/08/metode-pembelajaran-efektif.html. Diakses tanggal 24 Desember 2015. Jam 10.02 WIB.
Trianto. 2012. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif.  Jakarta: Kencana.
Zahidi, Sukron. 2014. Macam – Macam Model Pembelajaran. http://izzaucon.blogspot.co.id/2014/06/macam-macam-model-pembelajaran.html. Diakses tanggal 24 Desember 2015. Jam 10.01 WIB.